Denny JA dan Kemaluannya

Denny JA dan Kemaluannya

Suatu hari Denny JA tidur di kantor pribadinya. Sebelum kejadian, kejadiannya sudah berkali-kali memberontak karena sudah hampir 1 tahun Denny hanya memanja duburnya ke toilet. Sementara Denny memilih mengambil hal kenyal yang keras-kempos di dalam celananya, dan terus saja menyusun ide Puisi Esai di otaknya untuk buang hajat ke toilet besok pagi. Karena dia tahu, bahwa setiap kali buang hajat melalui duburnya, kontennya akan mengempes dengan sendirinya. Persis mayat yang dibungkus kafan.

Denny JA sudah tidur. Kemaluannya malah semakin keras memberontak isi otak tuannya yang mengancam besok hari.

"Belum tidur, Kak?" Dubur Denny menyapa dia yang sedari keras dan melahirkan rasa penasaran.

"Anjing lho, Coy. Tiap pagi kau mengeluarkan tahi Denny yang berasal dari otak Puisi Esai nya, kan?"

"Emang kenapa, Bro? Aku hanya menjalankan tugas, kok. Dia kan Tuanku, yang membuat diriku sendiri dalam kehidupan sehari-hari." Timpal dubur Denny, tidak terima.

"Kamu tahu gak? Ide Denny, yang mengklaim Puisi Esai nya sebagai temuan baru darinya dalam kesusasteraan Indonesia hari ini, itu sama sekali tidak benar."

"Kok, bisa?"

"Kamu itu baca radio, gak, sih?"

"Ngapain baca radio? Mending baca isu politik terkini biar ikut dapet titipan amplop."

"Dasar lho! Puisi esai itu sudah sejak lama banyak yang menulis. Termasuk Alexander Pope dari Inggris. Lagian, emang dan esai itu membenarkan dalam aturan bahasa kita? Esai itu fakta, sementara puisi itu fiksi."

"Emang gak boleh digabungin gitu? Kan sah sah saja kita melampaui aturan sebagai temuan?"

"Temuan itu yang diterima sama masyarakat. Sekarang aku tanya: puisi esai itu menarik pembaca tidak?"

"Tidak."

"Orisinil karya Denny JA tidak?"

"Tidak."

"Pembaca tertarik untuk ikut menulisnya, dan rela dikirim ke media tanpa iming iming proyek tidak?"

"Tidak."

"Goblok!!! Itu namanya tanpa eksistensi dengan uang!"

"Kok bisa?"

"Aduh. Toloolll... tolol!!! Kamu gak tahu, ya? Kalo setiap Denny mau buang hajat itu butuh uang untuk beli makan Indomie dan Micin cap Onta? Dari itu dia bisa buang hajat, goblok!!!"

"Iya, ya. Berarti dia tidak punya karya, dong. Dia cuma jual ide, dapet uang, lalu beli karya?"

"Tepat. Aku bilangin, nih, yah. Kamu kalo kamu diajak buang hajat besok pagi, jangan mau. Itu dosa besar!"

"Tapi aku gak punya uang buat ngasih makan kantong perutku."

"Ah. Kamu ini pilih kehormatan, apa kehinaan?"

"Biarlah hina di dunia ini, Bro. Yang penting aku sholat. Soal sastra itu kan tidak diurus di Akhirat?"

"Gila, lho, Coy. Emang yang diurus di Akhirat itu cuma tentang sholat? Semua perilaku hidup itu masuk dalam catatan malaikat. Kamu mau dilempar malaikat ke neraka?"

"Kan malaikat kuat, tuh, Bro. Siapa tahu, karena dosaku sudah terlalu banyak, jadinya malaikat pas lempar terlalu keras sehingga aku kelewatan terlempar ke syurga. Haha.."

"Njirrrr...."

"Bentar, Bro. Kamu baca artikel terbaru Denny di Inspirasi.co, gak?"

"Belum. Emang kenapa? Dia sudah taubat, dan memilih pulang ke rumah istrinya, dan bermanja di atas ranjang seperti malam pertama? Wah. Aku udah gak sabar, neh. Pengin 'anu' gitu. Syurga, Coy."

"Bukan ituu.... Denny JA bilang petisimu sejak kemarin itu tidak mewakili total rakyat Indonesia secara statistik."

"Hah? Ada apa dengan sastra sama matematika, Coy?"

"Gak tahu."

"Jiahahahahaha... Goblok. Masyarakat Indonesia itu tidak semuanya pecinta sastra. Dan petisi yang tandatangan itu sudah 75 persen dari semua orang yang menulis sastra. Itu artinya kami menang. Emang, si Denny pernah memilih berapa banyak rakyat yang mendukung puisi esainya?"

"Tidak."

"Itulah anjingnya Denny JA!"

Akhirnya si Kemaluan sudah lelah, dan memilih istirahat. Percuma kiranya dia berdebat dengan Dubur goblok.

keesokan harinya, si Denny bertahi lagi melalui Duburnya. Tahinya berbau busuk. Konon, KEMALUANNYA TAK BISA NGACENG LAGI karena cara bertahinya yang terlalu keras hingga terdengar di Facebook dan media lainnya.

Dan istri siap selingkuh. Lalu Denny frustasi. Proyeknya akan bangkrut, dan banyak karya yang dihasilkan oleh penulis bayarannya ditarik kembali. Semuanya hanya karena satu, tahi yang berciprat besar hingga KEMALUANNYA PUN TAK NGACENG LAGI!

Yogyakarta, 2018

Ali Munir S., pemandu Chairi Anwar biar tidak mau dibayar oleh Denny JA.

0 Response to "Denny JA dan Kemaluannya"

Post a Comment