Tadi aku kembali menjumpaimu. Awalnya kau cemberut dan pucat. Tapi Kau hanya senyum sinis saat temanmu mengejekku. Gelap. Redam. Semua tertahan. Dan kau memilih pulang. Sementara aku masih dalam lugu. Mencoba menghela berbagai prasangka orang orang. Bahwa aku masih menginginkanmu. Tidak. Sama sekali tidak. Aku hancur. Lebur.
Aku memang lebih memilih itu. Menyapamu adalah sebuah penghianatan, bukan? Selama ini kamu yang diam. Selama itu pula kau yang pergi. Sementara aku sibuk sendiri berlalu lalang. Mencari celah celah hatimu. Sedangkan kau tak mau tahu. Batu. Bisu. Dan U U yang lain yang menunggu Usai.
Kejam. Cinta memang kejam. Juga engkau. Awalnya kau tersenyum. Memberi obat penawar pada perjalanan yang telah usang. Tapi itu barang sebentar. Dan kau menangis. Menangis karena kau egois. Menangis karena kau pecundang. Kejam. Dan ku tak mengerti.
Memilih sendiri. Sepi adalah keputusan paling manis. Saat kata tak dihirau. Ketika puisi tak tersambut pasti. Pergilah. Sudahi tatapan sinismu. Jangan menjadi maling. Yang mau mencuri hidup orang lain.
Hatiku sudah beku. Air mata sulit keluar. Sekalipun kau harus tahu, bahwa aku masih mencintaimu. Mencintaimu.
0 Response to "Sinis Senyummu"
Post a Comment