Hidup adalah Sastra

Aku masih ingat kata kata itu:
Kau boleh pintar dalam berbagai ilmu pengetahuan. Tapi selama kau tak mencintai sastra, kau hanya hewan yang berakal.

Kalau tidak salah peribahasa itu dikatakan oleh penulis kondang sejarah Pramoedya Ananta Toer. Dan bagiku itu benar sekali. Karena manusia lahir dari bahasa. Dan bahasa memerlukan imajinasi kehindahan agar nyaman ketika dicerna dan dipahami.

Pernah terbayang manusia purbakala, buta aksara, bagaimana mereka berbahasa dengan isyarat? Tentu mereka menggunakan kedekatan emosional. Bahkan keindahan. Itulah sastra.

Sastra adalah budaya. Norma norma masyarakat penuh dengan unsur sastra. Keindahan. Kerendahan. Penghormatan. Dan juga rekayasa pemaknaan. Semua butuh etika sastra. Sehingga tidak jarang jika banyak ilmuwan yang ilmunya semakin tinggi, malah semakin membangkang dan plin plan. Maka tidaklah salah jika ilmu tanpa sastra itu tak ubahnya hewan yang berakal.

Atau kita kutip bahasa Buya Hamka misalnya:
Jika hidup hanya untuk makan, anjing juga makan.
Jika hidup hanya untuk kerja, kera juga kerja.

Dan betapa banyak manusia yang hanya hidup untuk makan dan bekerja. Sama sekali tak mau tahu tentang sastra dan budaya. Bisanya hanya jadi penonton di berbagai pagelaran. Kenapa mereka sendiri tak mau bersastra? Sastra bukanlah takdir. Dia harus dicari. Karena sastra adalah inti dari kemanusiaan manusia.

0 Response to "Hidup adalah Sastra"

Post a Comment