Seruling Dinda

Seruling itu, Dinda. Masih ingatkah engkau saat kutiup merdu di gendang telingamu. Suaranya adalah tambatan hati yang ingin sampai pada kedamaian kita. Dan kau tersenyum. Diam. Sesekali memandang kedua belah mataku yang terbuka dan terpejam, menghayati alunan melodi jingga yang mendayu damai semesta. Burung burung bertungku di atas pohon yang gening. Daun daun mengamini swasa syahdu. Juga sungai yang tenang di pelupuk mata, mengalir jernih tanpa berpaling pandangan.

Seruling itu, Dinda. Masih bercerita di otak kita. Mengirim sinyal rindu pada saraf sarafku, tentang senyummu yang tak jua beku. Manis dan tenang di bawah mentari pagi. Kita tak hendak siang cepat beranjak pergi. Kemudian mengirim senja seperti sekarang. Dan biasanya kau berkata dengan lembut, "Sekarang waktunya kita pulang ke rumah masing masing. Hari sudah malam." Lalu kita saling menitip bola mata, bertukar suara, dan beranjak ke lain jalan.

Kita sama sama menunduk. Mengingat kebersamaan. Begitu indah, tapi tak abadi. Selain sunyi. Juga mimpi untuk bertemu lagi. Tapi tahukah kau, Dinda, bahwa rindu adalah nikmat yang paling rahasia di balik jeda? Tidak. Aku selalu mengira kau tak ingin lagi tahu. Karena terakhir kali bertemu kau memilih gagal bertatap muka. Berdua, berpisah. Dan pasrah pada sejarah.

Tapi tak apa. Seruling juga tak lagi di tanganku. Atau kalau pun ada, mungkin dia sudah lapuk. Kini suaranya sudah kuganti dengan alunan hati. Tak terdengar. Juga tak ada yang sudi mendengar, apalagi mendekat. Termasuk engkau!

0 Response to "Seruling Dinda"

Post a Comment